Waktu dimasa-masa awal pernikahan, disaat suami meminta kepada saya untuk mengelompokkan kebutuhan dan kisaran biaya maksimalnya. Saat itu saya hanya bisa bengong, antara percaya dan gak percaya.
"ahh masih gitu-gitu doang kan pengeluaran mah. Ngapain pake dicatat, dikelompokkan segala". Kataku. "Justru karena masih gitu-gitu aja jadi masih sederhana kan yang harus dicatat, disaat pengeluaran sudah besar dan banyak macamnya, kita sudah terbiasa untuk memanage keuangan". Kata sii pappa.
Mau tidak mau akhirnya saya mulai belajar bagaimana cara memanage keuangan yang baik. Awalnya lumayan tertatih karena saya tipekal orang yang kalo suka sama satu barang yaa wajib beli, tanpa berpikir ini butuh atau tidak. berjalanannya waktu Alhamdulillah saya mulai terbiasa dengan yang namanya pembukuan, dan Alhamdulillah lagi rasa khilaf membeli sesuatu yang bukan kebutuhan pun kian berkurang.
6tahun pernikahan kami telah dikaruniai 2 anak sholeh. Yang pertama berusia 5th 10bulan, yang kedua 2th 7bln. Mungkin karena setiap harinya melihat saya mencatat pengeluaran harian. Kemudian tiap akhir bulan dikeluarga kecil kami memang selalu ada yang namanya diskusi khusus membahas masalah keuangan. Alhamdulillah tidak sulit bagi kami untuk mengenalkan kepada anak-anak mana kebutuhan dan mana keinginan.
Diusia yang masih sangat belia, 6bulan ini abang sudah pandai mencatat kebutuhan bulanannya sendiri, perlahan dapat memahami dengan baik mana yang menjadi kebutuhannya dan mana yang hanya inginnya saja.
Bersyukur tidak terlalu sulit bagi kami untuk mengajarkan kepada anak-anak mana kebutuhan dan mana keinginan. Bersyukur tidak sulit bagi kami untuk mengenalkan kepada anak-anak cara mengatur keuangan sejak dini. Mungkin karena setiap harinya anak-anak melihat dengan sendirinya saya melakukan pembukuan harian.
Semoga dengan waktu yang tersisa ini dapat kami maksimalkan untuk membersamai anak-anak lebih baik lagi.
#AliranRasa
#Level8
#KuliahBundaSayangIIP
#RezekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#6Okt2017