Sabtu, 27 Januari 2018

Aliran rasa level 11

Level 11 ini adalah sesuatu yang wow banget menurut saya.. karena dengan adanya cara belajar yang baru dari level-level sebelumnya menjadikan pengalaman yang baru juga untuk saya. Mulai dari dapat megenal lebih dalam teman-teman satu kelompok, menambah ilmu dan pengetahuan.. serta menambah kenangan dipenghujung kelas bunda sayang.

Betapa pentingnya menumbuhkan  fitrah seksualitas kepada anak, tujuannya supaya tetap lestari nya kehidupan manusia sesuai dengan kaidah ajaran agama. Fitrah seksualitas tak bisa di kekang, dihilangkan atau dihindari dari kehidupan anak. Dalam mengajarkan seksualitas, orang tua berdasar pada tuntunan ajaran agama dan menyesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Dan hal terpenting adalah mengajarkan anak menjadi Muslim dan Muslimah yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah - mengarahkan anak” menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat. Harapanya ancaman dan rasa takut orang tua akan hilang dan anak-anak kita menjalani hidup secara sehat (sesuai fitrahnya).

Jumat, 19 Januari 2018

Mengajarkan Pendidikan Seksualitas Anak dalam Pandangan Islam

Sore ini selepas sholat Ashar, memang jadwalnya abang berenang. Sesampainya di tempat tujuan, abang sedikit kaget karena kolam renang ternyata lebih ramai dari biasanya.

Abang : "Hmmm... rame ya ma hari ini"
Abang : "Abang izin ke toilet dulu ya ma, mau ganti pakaian"

Kalimat kedua yang dapat saya simpulkan, diusia yang baru menginjak usia 6tahun 2bulan. Alhamdulillah abang sudah sangat tau apa itu aurat. Mana yang harus diperlihatkan dan mana yang harus dijaga. Sejauh ini kalau berada ditempat umum kalau mengganti pakaian abang akan melipir ke toilet. "Malu kalo ganti disini ya ma" begitu katanya.

Menanamkan rasa malu pada anak memang seharusnya sedini mungkin. Dan menanamkan rasa malu pada anak adalah bagian dari pendidikan seksualitas dalam pandangan islam.

Saat ini dan seterusnya saya akan berusaha semaksimal yang bisa saya lakukan untuk membersamai anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Kamis, 18 Januari 2018

Mengenalkan fungsi anggota tubuh pada adek yang berusia 2th

Siang tadi saat ada waktu kosong dan waktu adek untuk bersantai. Saya gunakan untuk mengajak adek bercerita. Awalnya saya mendongengkan adek tentang fungsi anggota tubuh. Duduk diam, mimik wajah yang sangat serius mendengarkan dongeng yang saya ceritakan.

Selesai saya mendongeng, adek saya ajak untuk meriview apa yang sudah saya ceritakan. Mulai dari rambut, mata dengan fungsinya, telinga, tangan, kaki dan terakhir sampai di alat kemaluan adek.

Dibagian riview terakhir saya mengajak adek untuk lebih serius lagi. Karena sekaligus saya ingin kembali mengingatkan bahwa menjaga alat kemaluan itu sangat penting dan ini termasuk benda rahasia yang adek punya. Tidak semua orang bisa menyentuh atau memegangnya. Yang berhak menyentuh atau melihatnya hanya mama, pappa, tante dokter dan bu guru kalo adek udah sekolah nanti yaa.

Anggukan dan tawa ceria dari adek menjadi jawabannya. Saya pun terseyum melihatnya. Melihat anak usia 2th 11 bulan ini sangat antusias dengan apa yang saya dongengkan siang ini.

Semoga apa yang saya lakukan siang ini dengan adek dapat membawa manfaat untuk adek kedepannya.

Rabu, 17 Januari 2018

Belajar memahami beda perempuan dan laki-laki

Sore ini sambil menunggu waktu sholat Maghrib tiba, saya mengajak abang dan adek untuk menonton video. Yaa.. media yang saya gunakan masih dalam bentuk video. Menurut saya dengan melihat secara langsung, anak-anak akan lebih mudah untuk menjelaskan apa yang akan kami bahas nantinya.

Disini saya mengajak abang dan adek menonton 2 video sekaligus. Video yang saya putar adalah perbedaan anak laki-laki dan anak perempuan. Alhamdulillah ternyata respon yang abang berikan sangat positif.

Pertama : Abang dapat dengan gamblang menjelaskan kalo anak perempuan yaa harus memakai pakaian perempuan. Dan anak laki-laki yaa harus memakai pakaian laki-laki. Masak anak laki-laki memakai pakaian perempuan kan aneh yaa ma.. begitu katanya.

Kedua : Abang juga dapat dengan lancar menjelaskan mainan yang seharusnya dimainkan oleh anak laki-laki dan perempuan. Kalo laki-laki mainan boneka kan gak lucu aja ya ma. Kalo anak cowok yaa mainan nya anak cowok kayak mobilan, merakit robotan, hotwheels gitu kan ya ma.

Anggukan serta senyuman lebar yang saya berikan atas penjelasan yang abang utarakan. Perlahan tapi pasti abang mulai memahami fitrah laki-laki dan fitrah perempuan.

Harapan saya semoga saya bisa terus membersamai abang dan adek dengan sebaik-baiknya.

Selasa, 16 Januari 2018

Membangun Fitrah Pada anak Usia 6th

Malam ini saya mengajak abang untuk menonton video dari hasil diskusi kelompok 4. Setelah menonton saya mengajak abang untuk menganalisa apa yang barusan abang tonton.

Pertama abang dapat menyimpulkan pakaian laki-laki itu seperti apa. Kedua abang dapat menyimpulkan mainan kesukaan anak laki-laki itu seperti apa.

Membangun fitrah seksualitas anak memang seharusnya sedini mungkin. Dan semoga waktu yang saya lalui bersama abang dan adek adalah waktu terbaik untuk saya mulai membangun fitrah seksualitasnya.

Senin, 15 Januari 2018

Dongeng Tentang Fitrah Seksualitas Yang hanya 1/4 perjalanan

Malam ini cuaca sangat mendukung sekali untuk beristirahat. Begitu juga abang, meminta saya menemaninya untuk istirahat malam lebih awal.

Diwaktu ini saya gunakan untuk mendongeng. Yang saya bahas malam ini adalah tentang Fitrah Seksualitas.

Baru membacakan 1/4 bahan yang saya dongengkan, abang sudah tertidur pulas. Saya pun terseyum melihatnya. Karena mungkin padatnya kegiatan abang membuat abang lelah dan memilih istirahat lebih awal.

Besok akan saya lanjutkan berdiskusi dengan abang tentang fitrah seksualitas ini. Tema yang memang lagi happening banget.

Harapan saya semoga dapat membersamai anak-anak dengan sebaik-baiknya. Karena waktu tidak akan pernah kembali.

Minggu, 14 Januari 2018

Riview X Bagaimana Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Anak Pada Orangtua Tunggal

Malam ini adalah malam ke 10 diskusi dikelas bunda sayang BCCG IIP. Seperti biasa di hari minggu kegiatan selalu padat, mulai dari beberes rumah yang tiap harinya tidak sempat dipegang, lanjut bikin menu masakan mingguan, menyetrika, dan hingga waktu sore menjelang kami gunakan untuk diskusi keluarga.

Selepas maghrib melihat sii pappa sudah mulai segeran, akhirnya kami putuskan untuk bersilaturahim ke rumah orangtua dari sii pappa. Karena bisa menengok orangtua memang kegiatan wajib dihari minggu.

Karena malam ini ada yang sedikit saya persiapkan untuk buah tangan ke rumah mertua. Hingga tanpa sadar handphone saya pun tidak terbawa. Dan lewat lagi mengikuti diskusi dikelas. Ahhh... ada perasaan sediih kala melihat tepat pukul 8 malam.

Meminta pulang kepada sii pappa pun tidak tega, akhirnya hanya bisa menyemangati diri sendiri untuk dapat membaca dan memahami sendiri hasil diskusi malam ini.

Tema yang diangkat malam ini adalah : "Bagaimana menumbuhkan fitrah seksualitas anak pada orang tua tunggal?"

🍀 Pengertian Fitrah Seksualitas

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

🍀 Tahapan fitrah seksualitas:

🍄 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui.

🍄 3– 6 tahun, anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional.

🍄 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah dan anak perempuan didekatkan ke ibunya.

🍄 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah.

🍄 > 15 tahun, anak sudah aqil baligh yang merupakan tahap penyempurnaan fitrah seksualitas.

🍀 Peran Oraang tua:

1⃣ Peran ayah sebagai berikut:

- Penanggung jawab pendidikan.
- Man of vision and mission
- Pembangun system berpikir
- Supplier maskulinitas
- Penegak professional
- Konsultan pendidikan
- The power of tega

2⃣ Peran ibu sebagai berikut:

- Pelaksana harian pendidikan
- Person of love and sincerity
- Sang harmonis dan sinergi
- Pemilik moralitas dan nurani
- Supplier feminilitas
- Pembangun hati dan rasa
- Berbasis pengorbanan
- Sang “pembasuh luka”.

🍀 Tantangan yang di hadapi sebagai berikut:

1. Long Distance Relationship (LDR).
2. Perceraian.
3. Meninggal dunia.

🍀 Masalah utama anak melalui perceraian orang tua:

– 63% anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia dan depresi.
– 56% kemampuan akademisnya rendah atau menurun dibandingkan dengan yang pernah mereka capai pada masa sebelumnya.
– 43% melakukan agresi terhadap orangtua.
(Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University Of Michigan, AS).

Ketiadaan sosok ayah memiliki dampak yang luar biasa negative terhadap perasaan anak. Anak mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian di sekolah, penyesuaian social dan penyesuaian pribadi.
(Journal of Divorce dari Harvard University, AS, Ibu Rebecca L Drill, PhD).

Maka dari itu lah bagaimana orang tua tunggal menghadapi masalah tersebut.

🍀 Pentingnya ilmu

🎗Kewajiban orang tua ialah membekali diri dengan ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan perannya.

🎗Orang tua yang berilmu akan menuntun anak-anaknya untuk menghadapi masalahnya dengan ilmu pula.

🎗Dengan ilmu yang cukup akan membantu kita sebagai orang tua mengasuh anak-anak hingga dewasa meskipun dalam keadaan sendiri atau single parent.

🍀 Kemudian yang bisa dilakukan bagi orang tua tunggal di antaranya :

🌹Bagi single mom

🌱 Carilah figur laki-laki dewasa untuk anak kita dan dekatkan anak-anak kita pada sosok tersebut. Begitupun sebaliknya.

🌱 Ibu atau ayah bisa menjadi role model bagi maskulinitas dan feminitas yang bisa ditiru oleh anak-anak kita.

🌱 Adanya rasa pengakuan dan penerimaan bahwa kehidupan kita dan anak-anak tidak ideal.

🌱 KPK (Kehangatan, Perhatian, dan Komunikasi).

Ikatan antara sang ibu dan buah hati terjalin sejak dalam masa kandungan hingga anak-anak bertumbuh kembang, dengan berbekal ilmu, akan membangun tiga hal yang sangat penting untuk pendidikan anaknya yaitu emotional quotient (eq), spiritual quotient (sq) dan intelligence quotient (iq).

🌱 Fitrah.

Setiap anak dilahirkan adalah fitrah atau suci. Pastikan sikap yang orang tua lakukan dan yang anak-anak tiru adalah perilaku yang baik.

🌱 Orang Tua, Idola Anak.

Kekosongan salah satu sosok orang tua dalam keluarga, mesti diisi atau dilengkapi oleh yang lainnya. Bukan bermaksud menggantikan, tetapi mengkomunikasikan tentang pribadi ayah atau ibu agar terbentuk karakter orang tua di benak anak sebagai idola mereka.

🌱 Kebutuhan Batin Anak.

Perhatian dan komunikasi di jaman sekarang, tidak terbatas pada jarak.

🌱 Stay Hungry

Kehangatan, Perhatian, dan Komunikasi dari orang tua kepada anak mestilah dilakukan dengan penuh keikhlasan dari hati.

🌱 Jangan Berharap Jadi Single Parent.

Pertikaian dalam rumah tangga mungkin adalah hal yang biasa terjadi. Namun, jangan sampai hal itu membuat perceraian dan akhirnya terbentuklah pola pengasuhan dengan single parent.

Pembahasan pada orang tua tunggal menurut ust. Budi Ashari

1⃣ Dalam kehidupan anak, 60% kehidupan anak diberikan otoritas pd ortu, sisalnya pd lingkungan (sekolah, lingkungan main dll)

2⃣ Islam memberi otoritas 60% itu pd ortu #bersyukur

3⃣ Banyak ortu protes tentang perkembangan anaknya, karena otoritas 60% itu tdk diambil, tapi diserahkan semua ke lingkungan. Ortu punya otoritas tidak diambil dengan tanggungjawab.

4⃣ "Sekolah jangan cepet2, sekolah jangan lama2 " (Budi Ashari) #nicequote

5⃣ Dalam islam, seorang anak mulai bersekolah di usia 5 thn. 0-5 thn adalah otoritas ortu jangan dititip atau dimasukkan sekolah

6⃣ Anak adalah harta berharga, maka harus dipersiapkan perencanaan pendidikannya sebaik mungkin. Bagi tugas antara peran ayah dan ibu agar anak bisa terasuh di usia 0-5 thn.

7⃣ Zaman Rasul, usia baligh anak-anak adalah 15 tahun. Kemudian usia baligh anak-anak kembali lagi ke usia 15 thn, biidznillah insyaAllah. Karena dengan baligh di usia 15 tahun, para ortu punya banyak waktu untuk menyiapkan anak2nya menjadi mukallaf.

8⃣ Wanita yg berperan dalam tahapan 0-15 thn

Rasulullah:
*⃣ Bunda Aminah di usia 6 thn mengajak Muhammad saw ke makam ayahnya.
Hikmah : pentingnya nasab ayah diperkenalkan ke anak ketika anak hidup hanya dengan ibunya. Di madinah banyak kerabat Abdulllah dari sisi perempuan (klrg nenek). Nasab adalah sesuatu yg istimewa.

*⃣ Tsuwaibah sempat menyusui Nabi sebentar.

*⃣ Halimah
Halimah mengisi usia emas Nabi (0-5thn). Halimah adalah perempuan beriman. Jarak dusun halimah sekitar 100km, sang Nabi yang masih bayi merah dibawa jauh demi sebuah rencana besar. Aminah menyerahkan dengan keridhoan anaknya kepada Halimah, walau jauh, karena Mekkah tidak layak untuk pertumbuhan Muhammad kecil. Banyak hal di mekkah yang harus dihindari dia di usia emas Nabi.
Pesan : jika di usia emas seorang anak harus diasuh oleh org lain, pilihlah lingkungan terbaik utk mereka.

*⃣ Syaima (kakak sepersusuan).
Syaima sebagai kakak tertua adalah role model. Jadikan anak pertama role model, karena akan jadi teladan.

*⃣ Ummu Aiman (pembantu).
Ada konsep pembantu dalam islam, Rasul menyebut Ummu Aiman sebagai "dia ibuku setelah ibu".

Tersadarkan bahwa dalam islam, banyak pihak yg mendidik anak, termasuk pembantu. Ummu Aiman tampil sebagai pembantu luar biasa, sehingga Nabi dengan bangga menyebutkan bahwa Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibu.
Padahal image "anak pembantu" adalah buruk, tapi Nabi dengan bangga menyebut Ummu Aiman sebagai ibunya, karena istimewanya kualitas "peran pembantu" Ummu Aiman.
Kemudian Nabi pun menyatakan ketika Ummu Aiman harus menikah lagi, "yang mau menikah dengan wanita ahli surga nikahilah Ummu Aiman".

*⃣ Fatimah bin Asad
Khodimat ideal, sebagai ibu dan ahli surga, wanita beriman. Kata Nabi : ummi ba'dal ummi. Di usia 8-15 tahun didikan Nabi ada di bawah Fatimah binti Asad. Nabi tersedu ketika memakamkan Fatimah binti asad.

9⃣ Pria yg berperan dalam pengasuhan Nabi yaitu:

✳ Suami Halimah
Menjadi pengganti ayah. Perlu tokoh pengganti ayah (sekalipun single parent dan tidak menikah lagi).

✳ Kakek Nabi "Abdul Mutholib".
Bukan sembarang kakek. Pemimpin di mekkah. Allah menitipkan pengasuhan 6-8 tahun kepada Abdul Muthollib. Dia mengajarkan kebesaran dan kepemimpinan pada Muhammad kecil.

# Leadership utk usia 6-8 thn.
Bagaimana mengajarkannya ? Abdul muthollib memiliki kursi kebesaran disamping Mekkah, tidak ada yang berani mendudukinya, bahkan anak-anaknya sekalipun.
Tapi ketika Muhammad kecil naik ke kursi tsb, dikatakan jika untuk anak yang ini biarkan, karena kelak dia akan jadi pemimpin besar.

# Seni menjadi nenek kakek mengajarkan leadership. Nabi saw calon orang besar, maka sejak kecil disiapkan sebagai orang besar.

✳ Abu Thalib, mengajarkan life skill berdagang ke Nabi saw kecil. Berdagang ke Syam di usia kecil. Perjalanan 2000km, perjalanan lama yang diisi dengan berinteraksi dengan para pedagang, "ngasah kuping" dengan cara mendengarkan obrolan para pedagang (harga, kualitas barang dll).

Referensi tulisan dan video:

– waza.wordpress.com
– Facebook Okina Fitriani
– Elly risman muda, fitrah seksualitas, https://iinchurinin.wordpress.com/2017/10/21/fitrah-seksualitas-anak-bu-elly-risman/
– Ustadz harry santosa, kulwapperan ayah dalam pendidikan, https://nakindonesia.wordpress.com/2017/05/01/kulwap-peran-ayah-dalam-pendidikan/
– https://fc4pentingers.wordpress.com/2016/05/01/manajemen-pengasuhan-single-parent-terhadap-kesuksesan-anak/
– http://www.ibujerapah.com/2017/10/singleparenting-tentang-sosok-ayah.html
– https://youtu.be/mUirnWqWnRs

Sabtu, 13 Januari 2018

Riview IX Pendidikan Fitrah Seksualitas Anak Dalam Islam

Jam 10an malam baru saja sampai rumah. Seharian ini full ngurusin abang di RS Siloam Karawaci. Masih tindakan lanjutan dari gigi abang yang ada bakteri anaerob nya.

Qodarullah hari ini kondisi pappa pun tidak fit, demam, batuk saja sepanjang perjalanan membuat saya sedikit mellow melihatnya.

Dan malam ini pun saya absen, tidak bisa mengikuti di kelas bunsay BCCG IIP. Hanya bisa sekejap membaca materi yang disajikan teman-teman.

"Pendidikan Fitrah Seksualitas Anak dalam Islam"

Pendidikan seksual pada anak sangat penting, karena akhir-akhir ini gencar promosi pendidikan seks di sekolah-sekolah yang acuan dasarnya jauh dari nilai-nilai islam. Banyak cara penyampaian pendidikan seks mengacu pada apa yang dipraktikkan di negara Barat yang tentunya berbeda dengan pendidikan seks dalam islam.

*Tujuan pendidikan seksual di sebagian negara-negara Barat* adalah:

✅ *Menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan.*

Definisi pasangan menurut mereka tidak hanya suami dan istri, tapi juga pasangan satu rumah yg tidak diikat dengan pernikahan (kumpul kebo). Bahkan ada yang sampai sudah punya anak banyak baru menikah.

✅ *Menghindari kehamilan di usia remaja.*

Menurut mereka boleh remaja berhubungan seksual asalkan tidak sampai hamil. Makanya perzinaan antara siswa siswi di barat itu biasa.

✅ *Mampu menghindarkan hubungan seks apabila tidak diinginkan* walaupun bukan dengan pasangan sah.

✅ *Menghindari seks yang tidak aman* (yang tidak mengidap penyakit menular).

Sedangkan *Tujuan pendidikan seksual menurut Islam* adalah _menjaga keselamatan, kehormatan, dan kesucian anak-anak kita._ Bagaimana anak yang lahir dalam keadaan suci, selamat dan terhormat bisa tetap suci, selamat dan terjaga kehormatannya.

Fitrah seksualitas adalah _bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati._

Agar keselamatan, kehormatan dan kesucian anak dapat terjaga, maka dibutuhkan *pendidikan fitrah seksualitas* agar anak:

1. mengerti identitas seksualnya

2. mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya

3. mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Berikut adalah beberapa cara menerapkan pendidikan fitrah seksualitas pada anak:

📌 *Memberi nama yang baik untuk anak.*

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Diantara keindahan ialah memberikan nama yang baik dan tidak memberikan nama yang mengandung makna buruk. Memberikan nama sesuai dengan jenis kelamin laki – laki atau perempuan. Menghindari pemberian nama yang membuat keragu- raguan atau yang mempunyai makna ganda.

📌 *Mengajarkan toilet training kepada anak.*

HR Ahmad mengatakan bahwa ada bayi perempuan yang mengompol saat sedang berada dipangkuan Nabi. Kemudian Nabi tidak merasa tergangu dengan kejadian tersebut, melainkan Nabi meminta air dan langsung menyipratkannya kebagian yang terkena kencing tersebut. Anak usia 1 tahun sudah dapat diberikan penjelasan tentang cara toilet trainning yang benar. Setiap sebelum tidur dan sesudah bangun tidur dibiasakan untuk ke toilet dan anak dibiasakan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan ketika akan buang air kecil dan buang air besar. Orangtua dapat melihat gerak – gerik anak ketika akan akan buang air kecil dan buang air besar, sehingga dapat langsung menuju toilet.

📌 *Mengkhitan dan Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.*

Abu Hurairah berkata : fitrah itu ada lima yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak. Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya ( _toilet training_ ). Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

📌 *Menanamkan rasa malu pada anak*

Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya serta idak diperkenankan mandi bersama anak.

📌 *Mengajarkan Adab Meminta Izin*

Salah satu etika yang diajarkan dalam Islam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Adab minta izin: ketika anak ingin masuk ke dalam kamar orangtua nya / kamar kakaknya / rumah orang lain maka harus dimulai dengan salam lalu baru minta izin masuk. Maksimal sampai 3x kemudian sebaiknya pulang. Etika meminta izin dibahas dalam Surat An-Nuur Ayat ke 27. Salah satu tujuan meminta izin adalah untuk menjaga pandangan mata.

Orangtua ketika berada di kamar biasanya ibu pakaiannya tidak lengkap misal hanya pakai daster yang diatas lutut. Apabila kita punya anak laki-laki kemudian sering melihat pakaian ibunya terbuka akan mempengaruhi kecenderungan seksual anak kita. Walaupun itu tidak disengaja. Rasulullah bersabda dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim: "Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan dalam rangka untuk menjaga pandangan mata."

Pandangan mata yang tidak sengaja itu dihindari. Dijaga semaksimal mungkin. Kalau di rumah kita tidak bisa menjaga pandangan mata anak kita apalagi di luar rumah. Maka dari itu kita sendiri harus bisa menjaga aurat kita di hadapan anak kita dan ajarkan adab meminta iziin.

📌 *Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata*

Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi. Dalam Riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa Rasullullah saw bersabda : keponakanku, pada hari ini, siapa yang menundukkan pandangan matanya dan memelihara kemaluan dan lisannya, dosa – dosanya akan diampuni.

📌 *Latihlah anak untuk menutup aurat*

Aurat aslinya dari bahasa Arab. Kata aurat artinya secara bahasa: sesuatu yang tercela kalau kelihatan. Sehingga orang yang kelihatan auratnya merasa malu. Adapun dalam istilah fiqih aurat artinya adalah anggota badan yang tidak boleh ditampakkan lelaki atau perempuan kepada orang lain. Rasulullah bersabda "tidak boleh laki laki melihat auratnya sesama laki laki dan tidak boleh wanita melihat aurat sesama wanita". (HR Muslim)

Laki laki melihat aurat nya laki laki saja tidak boleh apalagi melihat auratnya perempuan. Begitu juga sebaliknya. Hal ini akan membahayakan. Kekeliruan orang orang bahwa laki laki boleh melihat aurat laki laki dan perempuan boleh melihat aurat perempuan. Padahal hal tsb tidak dibolehkan karena akan menimbulkan hal yang membahayakan.

*Dari aturan ini seandainya dipraktekkan maka kita akan bisa dengan izin Allah membendung gerakan LGBT.*

Ketika aturan Islam tidak dipraktekkan maka LGBT bisa terjadi. Seringkali awal laki2 suka dengan laki2 dan perempuan suka dengan perempuan adalah ketika mereka melihat aurat terbuka sesama jenisnya. Entah itu di kolam renang atau di kamar mandi atau di tempat yang lain. Dianggap hal itu biasa padahal Nabi melarang. Ketika hal itu biasa lama lama ada ketertarikan sesama jenis. Awalnya normal karena disuguhi pemandangan itu setiap hari jadi tidak normal, sampai bisa tidak suka dengan lawan jenisnya. Hal inilah yang dibidik propaganda LGBT.

Yang namanya batasan aurat hanya ada di diri manusia, tidak berlaku pada binatang. Ketika binatang melakukan hubungan biologis akan dia lakukan di tempat umum. Kebiasaan itu mulai menulari manusia. Di sebagian negara barat sudah menjadi hal yang biasa (sumber: info dari teman ustadz Abdullah Zaen dari negara barat). Maka manusia tidak boleh seperti binatang. Manusia diberi rasa malu di dalam hati. Seandainya manusia menghilangkan rasa malu dalam dirinya maka ia akan seperti binatang atau bahkan lebih parah dari binatang.

Untuk menentukan bagian tubuh yang boleh diperlihatkan dan tidak boleh diperlihatkan sudah ditetapkan oleh Allah. Laki laki dengan perempuan dibedakan batas auratnya. Para ahli fiqih menjelaskan bahwa anak yang dibawah usia 7 tahun aslinya belum wajib untuk menutup aurat. Namun sejak kecil dibiasakan menutup aurat sehingga ketika sudah biasa menutup aurat ketika dewasa. Pembiasaan dari kecil itu dianjurkan. Mereka yang sudah besar tidak menutup aurat itu rata-rata karena semasa kecilnya tidak dibiasakan menutup aurat. Baik bapak-bapak maupun ibu-ibu.

Karena sifatnya anjuran maka pembiasaannya tidak boleh pakai kekerasan atau paksaan. Sehingga kurang tepat anak balita dia berangkat sekolah pakai kerudung, di tengah jalan di lepas kemudian orangtua nya memarahinya. Itu kurang tepat karena memang belum ada kewajiban menutup aurat.

Kapan anak diwajibkan menutup aurat? Kalau usianya sudah 10 tahun ke atas. Apalagi perempuan. Fungsi pertama menutup aurat adalah menjadi identitas: kita adalah muslim/muslimah. Fungsi kedua adalah melindungi dari pelecehan seksual. Pelecehan seksual terjadi karena ada sebabnya yaitu adanya yang membuka aurat. Hal ini dibahas dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59.

📌 *Memisahkan tempat tidur anak dan Melarang Anak Tidur Telungkup*

Ketika anak berusia 10 tahun, naluri seksualnya mulai tumbuh. Anak harus diperlakukan secara hati – hati dengan menangkal semua penyebab kerusakan, penyimpangan dan dekadensi moral. Rasulullah bersabda : Perintahkan anak – anak kalian mengerjakan sholat bila telah menginjak usia tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya bila telah berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka. Apabila seseorang diantara kalian menikahkan budaknya atau pelayannya, janganlah ia melihat aurautnya karena sesungguhnya bagian dibawah pusar sampai lututnya termasuk aurat. Anak usia 10 tahun tidak semestinya dibiarkan tidur daam satu kasur. Tapi masing – masing harus tidur terpisah dari yang lain. Hal inilah yang menjadi tuntunan pemisahan sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Nabi. Dalam HR Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasullullah melarang kita untuk tidur tengkurap/ telungkup karena merupakan cara tidurnya orang yang dimurkai Allah. Menurut riwayat lain disebutkan bahwa tidur telungkup adalah cara tidurnya ahli neraka. Tidak diragukan lagi bahwa tidur telungkup dapat menimbulkan pergesekan yang tercela, membangkitkan birahi dan menggugah naluri seksual.

📌 *Jauhkan dari ikhtilat: campur baur antara laki laki dengan perempuan yang bukan mahramnya*

Di zaman ini ikhtilat sudah sangat umum terjadi. Di sekolah, di kantor, di kampus, pusat perdagangan sampai dengan angkutan umum hampir semua ada campur baur laki-laki dgn perempuan. Hal tsb dianggap biasa di negeri kita.

Bahkan sejak ketika sekolah dasar diminta duduk sebangku antara laki2 dan perempuan. Kemudian kerja kelompok juga campur. Tradisi semacam ini diperparah ketika masyarakat bersikap tidak peduli. Tidak peduli karena ketidaktahuan mereka. Padahal sesuatu yang umum dilakukan itu belum tentu benar.

Seringkali apabila laki2 atau perempuan bertemu itu tergoda oleh syaithan. Sudah bawaan bahwa laki2 suka dengan perempuan. Bukan berarti sesuatu yang wajar itu diumbar sebebas bebasnya. Halal kalau sudah ada ikatan resmi yaitu pernikahan. Banyak terjadi kasus perzinaan di luar nikah itu salah satu pemicunya karena adanya campur baur antara laki2 dan perempuan.

📌 *Menjelaskan hakikat Mahram*

Banyak yang belum menjelaskan hal ini ke anak karena orangtuanya belum paham. Muhrim berbeda dengan mahram. Muhrim: orang yang berihram (orang yg akan menunaikan umroh atau haji). Sedangkan mahram adalah kerabat yang haram untuk dinikahi selamanya. Boleh berjalan bersama selama tidak ada fitnah yang timbul.

Harus dijelaskan kepada anak: "apakah mahram itu?".

Yang termasuk mahram:

*Pertama:* ayah kandung, kakek kandung dan seterusnya ke atas. Sehingga ketika ada seorang anak perempuan ingin berpergian jauh maka hendaknya ditemani salah satu mahram: ayah kandungnya/ kakek kandung dst.

*Kedua:* bapak kandung suami (mertua), kakek kandung suami dan seterusnya ke atas.

*Ketiga:* anak kandung sendiri (lahir dari rahimnya sendiri), anak kandung suami (anak tiri).

*Keempat:* saudara kandung dan anak anak mereka. Anak saudara seayah atau saudara seibu.

Ketika anak kita bergaul dengan saudara-saudaranya ajarkan mana yang mahram dan yang bukan mahram. Karena mohon maaf di Indonesia persaudaraan itu akrab sekali tapi tidak semuanya mahram untuk anak kita.

Termasuk yang tidak diperbolehkan wanita berpergian jauh tidak ditemani dengan mahram. Ketika ada larangan tentu ada maslahatnya. Tidak boleh seorang laki2 berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram. Maka dari itu kita harus menjelaskan tentang mahram ini ke anak.

*Referensi*:

1. Video kajian Ustadz Abdullah Zein,MA tentang pendidikan seksual anak 1-6 (Yufid TV)

Link kajian:
https://m.youtube.com/results?q=pendidikan%20seksual%20anak%20ustadz%20abdullah%20zaen&sm=3

2. http://www.ummi-online.com/membangkitkan-fitrah-seksualitas-pada-anak-bagian-2.html

3. Lely Camelia, Ine Nirmala. Penerapan Pendidikan Seks Aanak Usia Dini Menurut Perspektif Islam (Upaya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak usia dini melalui penerapan pendidikan seks dalam perspektif sunnah Rasul).

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/YaaBunayya/article/view/1720

------

Jumat, 12 Januari 2018

Riview VIII Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksualitas Pada Anak?

Malam ke-8 diskusi dikelas bunsay IIP BCCG. Dan materi yang disajikan pun semakin menarik. Saya yang mengikuti jalannya diskusi pun sangat antusias menyimak jalannya diskusi. Belum lagi melihat media edukasi yang diberikan berupa video.

Malam ini banyak istilah baru yang saya dapatkan, mulai dari sadomasokisme, veyourisme, fetishisme, frouteoris, gerontophilia, dan troilisme.

Memahami setapak demi setapak dari materi yang diberikan teman-teman malam ini. Tentang "Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksual Anak..?"

*A. Rusaknya Fitrah Seksualitas Anak karena Pornografi dan Perilaku Seksual Menyimpang*

Perilaku seksual menyimpang menjadi fenomena yang berkembang dalam masyarakat. Fenomena ini bahkan menjadi menarik dikaji dalam berbagai sudut pandang dan keilmuan. Eksistensi mereka seolah-olah menginginkan untuk dianggap ada dan dihargai dalam masyarakat. Pencegahan perilaku penyimpangan seksual harus diawali dari lingkungan keluarga. “Rumah – Sekolah – Lingkungan – Peer Group – Media – Masyarakat – Negara” merupakan mata rantai yang secara bersama-sama bertanggung jawab terhadap hadirnya permasalahan perilaku seksual menyimpang di masyarakat, khususnya pada anak. Dan salah satu ancaman berbahaya bagi anak di era digital ini adalah pornografi.

Pornografi merupakan perilaku seksual menyimpang,  yaitu memenuhi kebutuhan seks dengan melihat gambar porno, cabul, atau membaca cerita-cerita porno.

Di Indonesia ini ada 90 juta lebih anak dan remaja berusia 0-19 tahun. Mereka adalah _digital native_ atau penduduk dunia digital, yaitu generasi yang dari sejak kecil terbiasa dengan kecanggihan teknologi digital. Namun kondisi umum anak & remaja tersebut saat ini dalam kondisi yang memperihatinkan.

Mereka adalah anak-anak yang mengalami *BLAST* (Bored-Bosan, Lonely-Kesepian, Angry-Marah, Afraid-Takut, Stress-Stres, Tired-Lelah). Mereka dipaksa mampu baca tulis hitung sejak usia sangat kecil, perhatian orangtua hanya pada pelajaran semata, beban pelajaran sangat berat, belum lagi jika mengalami kekerasan di sekolah. Mereka kesepian, tidak tahu harus curhat pada siapa, wajar jika anak merasa stress. Akhirnya mereka mencari kegiatan yang membuatnya senang dan kebanyakan mereka menghabiskan waktunya dengan handphonenya. Handphone telah menjadi orangtua pengganti bagi mereka.

Rata-rata mereka menggunakan handphone 9 jam/hari, melihat isi dunia internet  yang baik maupun yang buruk dan tidak terbatas jumlahnya. Diantaranya juga ada gambar, tulisan, atau video yang sengaja disebarkan pebisnis pornografi.

John Jarmer, mantan politisi dan mantan letnan gubernur California, yang juga mengepalai the Lighted Candle Society (organisasi yang memerangi pornografi di Amerika) mengatakan pebisnis pornografi mengincar anak-anak BLAST sebagai target sasaran mereka. Saat belum ada internet, pornografi ibarat makanan beracun. Kita akan keracunan, jika memakannya. Tapi kini, internet menjadikan pornografi sebagai virus, yang dapat bergerak memperbanyak diri tanpa terkendali, sehingga dapat menyerang dari segala arah.

Penelitian Yayasan Ibu & Buah Hati, tahun 2014, mendapatkan hasil : 92 dari 100 orang anak kelas 4, 5, 6 SD telah melihat pornografi.

Kita mengira anak akan cepat melupakan apa yang dilihatnya, padahal otak mereka seperti spons, mereka akan mengingat apa yang mereka lihat meski hanya sekilas. Sayangnya bagian otak anak yang mampu membedakan baik dan buruk belum berkembang sempurna, akibatnya anak akan menganggap apa yang dilihatnya sebagai sesuatu yang wajar. Tidak tahu mana yang bisa ditiru dan mana yang harus diabaikan. Maka ketika melihat pronografi, anak akan cenderung menirunya. Karena fungsi pertimbangan yang belum sempurna, mendorong anak akan melakukan sesuatu berdasarkan keinginan semata. Inilah sebabnya pornografi internet menjadi jauh lebih berbahaya. Anak akan rentan dengan kasus penyimpangan fitrah seksualitas lainnya, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Jadi, pornografi dalam hal ini menjadi pintu masuk penyimpangan perilaku seksual dan kejahatan lainnya.

Perilaku seksual menyimpang lainnya menurut Surtiretna (2001) dan beberapa literatur lain selain pornografi, adalah:
1. Perzinaan
2. Perkosaan
3. Pelacuran
4. Masturbasi
5. Homoseksual, termasuk Lesbianisme
6. Pedophilia / Pedophil / Pedofilia / Pedofil
7. Sodomi
8. Sadomasokisme
9. Ekshibisionisme
10. Voyeurisme
11. Fetishisme
12. Bestially
13. Insectus
14. Necrophilia / Necrofil
15. Frotteurisme / Frotteuris
16. Gerontophilia
17. Transvetisme
18. Troilisme
19. Zoophilia

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang memiliki perilaku seksual menyimpang. Sebagian ahli berpendapat bahwa kelainan perilaku seksual disebabkan oleh faktor psikologis atau kejiwaan, trauma masa kecil, seperti pelecehan seksual, kelainan saraf di otak, dan lingkungan pergaulan. Selain itu juga akibat rendahnya keimanan dan ketakwaan, minimnya pemahaman agama, dan salah asuhan.

Dalam kasus pornografi, ada beberapa penyebab mengapa anak bisa terjebak jeratan pebisnis pornografi adalah :
*1. Keringnya hubungan orangtua dengan anak*
*2. Kurangnya sensitivitas orangtua terhadap pornografi.* 
Tidak ada aturan ketika memberikan gadget pada anak pun tidak berpesan bahwa dengan manfaat yang sangat banyak dari gadget, ada juga bahaya yang dapat merusak otak, sehingga tidak mengingatkan anak untuk menjaga matanya dari hal-hal yang membahayakan.
*3. Kebiasaan orang dewasa menganggap pornografi sebagai humor.*

Sedangkan menurut Waskito (1993: 29), penyebab perilaku seksual menyimpang pada remaja adalah :
*1. Faktor intern, meliputi kelainan fisik sejak lahir, kelainan pengaruh obat, dan problem emosional*
*2. Faktor ekstern, meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah*

*_Lalu, bagaimana agar anak-anak kita terhindar dari kasus penyimpangan fitrah seksualitas ini, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban?_*

*B. Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak Sejak Dini*

Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal.

Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks.

Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas ini, yaitu :
1. Membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan sejak berusia tiga tahun. Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki. Mengapa harus nama ilmiah? Ini menghindarkan pada pentabuan.

2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya, seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak, sehingga anak akan mampu dengan tegas menyatakan "saya laki-laki" atau "saya perempuan".

3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai beraktivitas dengan peer groupnya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area tubuhnya yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan. Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini. Ada empat area pribadi, yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.

*_Bagaimana cara menerapkan pendidikan fitrah seksualitas?_*

Pendidikan fitrah seksualitas diterapkan sesuai tahap usia anak. Membangkitkan fitrah seksualitas anak bisa dimulai sejak mereka dilahirkan. Pada framework pendidikan berbasis fitrah, membangkitkan fitrah seksualitas pada anak berbeda menurut tahap usia anak masing-masing.fitrah seksualitas ini harus dididik dan ditumbuhkan dengan sebaik-baiknya melalui kelekatan yang mendalam bersama para orangtuanya sejak tahapan usia 0 sampai aqilbaligh di usia 15 tahun. (Sesuai dengan yang sudah dijelaskan oleh kelompok selanjutnya)

Kelekatan yang baik dari ayah dan ibu inilah yang kelak menumbuhkan fitrah seksualitasnya dengan paripurna dan berjalan sebagaimana perannya, yaitu menjadi lelaki dan ayah sejati bagi anak laki-laki, serta menjadi perempuan dan ibu sejati bagi anak perempuan. Fitrah seksualitas yang tumbuh baik secara tahapannya dipandu agama yang fitri akan membuat mereka kelak beradab pada pasangan dan keturunannya.

Seiring semua itu, kepercayaan orangtua dengan memberi ruang bagi ego anaknya ketika anak-anak, juga peran strategis ayah yang penting memberikan suplai "ego" kelak akan menumbuhkan fitrah individualitasnya dan fitrah sosialitasnya, yang memberi kemampuan yang baik dalam kepercayaan diri dan bersosial di masyarakatnya untuk tidak mudah menjadi pelaku atau korban bully maupun pelecehan seksual.

*_Wahai ayah-bunda, mari lindungi anak kita dari bencana pornografi dan kejahatan seksual dengan mendidik dan membersamai ananda dengan penuh cinta. Bersabarlah karena kita hanya memiliki waktu selama 14 tahun, mendidik sesuai fitrah._*

*_Menyelamatkan satu orang anak = menyelamatkan kemanusiaan._*

Referensi :

1. Video Kerjasama Kementrian Sosial, Yayasan Kita dan Buah Hati, serta Gerakan SEMAI2045 dalam Rangka Memerangi Pornografi dan Kejahatan
2. Harry Santosa. Fitrah Based Education. Yayasan Cahaya Mutiara Timur. 2017
3. Watiek Ideo, Aku Anak Pemberani 1
4. Eko Harsono. Predator Anak dan Fitrah Seksualitas dari: https://www.google.co.id/amp/s/ekoharsono.wordpress.com/2017/07/24/predator-anak-dan-fitrah-seksualitas/amp/
5. http://jeffy-louis.blogspot.com/2011/01/penyimpangan-perilaku-seks-dan-gangguan.html
6. http://www.wivrit.com/2013/11/13-macam-penyimpangan-seksual.html#ixzz53ZQMqSsp

Kamis, 11 Januari 2018

Riview VII Mengembangkan Perilaku Asertif Untuk Melindungi Fitrah Seksualitas Anak

Malam ini adalah malam ke tujuh diskusi di kelas bunda sayang IIP. Sudah berusaha berkomunikasi produktif pada anak-anak kalau jam 8 malam ini mamanya harus hadir dikelas bunsay BCCG.

Ternyata pada jamnya tiba, adek lagi manja banget. Mama nya tidak diizinkan memegang hape. Disaat mama nya meminta izin sebentar, adek langsung ngambek.

Tantangan banget untuk saya malam ini. Dalam membersamai kemanjaan adek. Padahal malam ini adalah salah satu tema yang saya nanti-nanti.

Tema yang diangkat oleh teman-teman malam ini adalah "Mengembangkan Perilaku Asertif Untuk Melindungi Fitrah Seksualitas Anak".

Belakangan ini, banyak sekali kasus-kasus penyimpangan maupun kekerasan seksual berseliweran di telinga kita. Belum lagi kasus-kasus terkait pornografi yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Rasanya dunia ini tak aman lagi untuk anak kita, rasanya terlalu takut membayangkan bagaimana keturunan kita kelak menghadapi lingkungan yang begitu semrawutnya. Astagfirullah.

Zaman sekarang, kita sebagai orang tua sudah tak bisa lagi berpikir bahwa dunia ini baik-baik saja. Kita benar-benar harus menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk anak kita. Mendidik fitrah seksualitas untuk anak adalah salah satu jawaban untuk menyiapkan bekal anak di masa mendatang.

Mendidik fitrah seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.

👉🏻Ada 3 prinsip dalam mendidik fitrah seksualitas

*Prinsip 1* : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)

*Prinsip 2* : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.

*Prinsip 3* : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.

👉🏻 Sedangkan tahapannya sebagau berikut :

💧Tahap Usia 0-2 tahun : Anak lelaki maupun anak perempuan lebih didekatkan kepada Ibu karena masa menyusui.

💧Tahap Usia 3-6 tahun : ini Tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan imaji imaji positif tentang gendernya masing masing. Anak lelaki maupun anak perempuan harus didekatkan kepada Ayahnya dan kepada Ibunya. Indikator tumbuhnya fitrah seksualitas di tahap ini adalah anak dengan jelas dan bangga menyebut gendernya di usia 3 tahun.

💧Tahap Usia 7-10 tahun : Ini tahap Penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. Anak lelaki yang telah ajeg konsep kelelakiannya pada usia 0-6 tahun, maka kini disadarkan potensi kelelakiannya langsung dari Ayah. Anak lelaki lebih didekatkan ke Ayah. Ayah mengajak anak lelakinya pada peran dan aktifitas kelelakian pada kehidupan dan sosialnya, termasuk menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma dan mandi wajib. Begitupula anak perempuan lebih didekatkan ke Ibu untuk disadarkan peran keperempuanannya dalam kehidupan sosialnya. Indikator di tahap ini adalah anak lelaki kagum dan ingin seperti ayahnya, anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya.

💧Tahap 11-14 tahun : Ini tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata. Anak lelaki yang telah sadar potensi kelelakiannya kini harus diuji dengan memahami mendalam lawan jenisnya langsung dari ibunya. Maka anak lelaki di tahap ini lebih didekatkan kepada ibunya agar memahami cara pandang perempuan dari kacamata perempuan (dalam hal ini ibunya). Anak perempuan juga sebaliknya, lebih didekatkan ke ayahnya agar memahami mendalam bagaimana cara pandang lelaki dari kacamata lelaki (dalam hal ini ayahnya). Indikator di tahap ini adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ayah bagi anak lelaki. Bagi anak perempuan adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ibu

💧Tahap 15 tahun : Ini tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan. Ini adalah masa AqilBaligh atau anak bukan lagi anak anak, tetapi mitra bagi orangtuanya. Secara syariah mereka telah Mukalaf atau mampu memikul beban syariah, termasuk kemampuan untuk menikah atau menjadi ayah sejati atau menjadi ibu sejati.

Nah, dalam rangka merawat  fitrah seksualitas anak, ada satu *perilaku* yang sepatutnya kita biasakan pula pada anak-anak kita agar harga diri dan kepercayaan diri anak tumbuh dengan baik. Sehingga diharapkan anak dapat terhindar dari segala bentuk penyimpangan sesksual, kekerasan seksual, bullying, ataupun tindak kejahatan lainnya.

Perilaku tersebut adalah *perilaku asertif*. Apakah perilaku asertif itu?

Di bidang komunikasi dan psikologi, ada istilah asertivitas. Sederhananya, perilaku asertif adalah perilaku untuk menunjukkan atau menyampaikan perasaan atau pemikiran dengan jujur, tanpa menyinggung perasaan dan hak orang lain.

Nah, mengapa kemampuan untuk berperilaku asertif sebaiknya dikembangkan pada anak-anak?

Paling tidak, *ada 3 alasannya* :

1⃣Perilaku asertif adalah bagian dari keterampilan sosial. Orang yang asertif merasa nyaman saat mengungkapkan kebutuhannya dan membuat orang lain tetap merasa nyaman. Dengan sendirinya mereka menjadi individu yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan karena jujur, terbuka, dan selaras antara pikiran dan ucapan. Orang-orang yang asertif juga pada umumnya memiliki kecerdasan emosional yang baik.

2⃣Perilaku asertif melindungi hak-hak individual tanpa mengganggu hak orang lain. Banyak contohnya, misalnya berani bilang tidak pada kasus pelecehan atau kekerasan/ bullying pada anak. Di lain pihak, anak juga mampu menunjukkan diri, pendapat, dan pemikirannya sebagai individu yang unik/ spesial tanpa menghina, mengancam, atau merendahkan orang lain. Contohnya saat ia mengatakan lebih menyukai suatu mainan tertentu di sekolah tanpa mengatakan mainan temannya jelek.

3⃣Perilaku asertif sejak dini dapat membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri, memiliki konsep diri, self-esteem, dan hubungan sosial yang berkembang baik.

Pada orang dewasa saja, perilaku asertif tidak mudah dilakukan. Ada banyak pertimbangan saat kita ingin mengungkapkan pendapat atau keinginan kita, sehingga terkadang kita memilih untuk diam dan menerima. Sebaliknya, ada pula sebagian dari kita yang cenderung agresif saat menyampaikan sesuatu. Agar didengar dan dipatuhi, kita menggunakan kata-kata yang mengancam, merendahkan, atau memaksa. Jelas bahwa berperilaku non-asertif atau agresif bukan pilihan terbaik saat berkomunikasi dengan orang lain, karena itu di bawah ini adalah *beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kemampuan berperilaku asertif pada anak* :

🔴Contoh nyata dari orang tua atau orang dewasa di sekeliling anak. Misalnya, mengungkapkan keberatan dengan baik disertai alasan yang jelas. Contohnya saat anak tidak mau merapikan tempat tidur sampaikan apa yang kita rasakan atau pikirkan, lalu berikan alasan yang tidak menyinggung anak. Misalnya “Mama ga suka lihat kasur kamu berantakan, kalau kasurnya rapi pasti lebih nyaman kalau kamu mau tidur. “. Jangan lupa, lakukan juga perilaku asertif  dengan pasangan dan orang lain, apalagi di hadapan anak.

🔴Kembangkan keberanian dan kepercayaan dirinya. Anak perlu menyadari ia punya hak pribadi untuk berpikir, berpendapat, memilih, dan sebagainya. Tunjukkan pengertian dan penerimaan pada setiap kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Seaneh atau sekonyol apapun idenya bagi kita, tunjukkan kita mendengarkan, lalu beri masukan/ pendapat kita. Buat anak merasa aman dan nyaman saat ia ingin mengungkapkan kebutuhan atau pendapatnya.

🔴Hindari memberi label pada anak. Pada saat berkomunikasi, tekankan pada apa yang membuat kita keberatan, bukan “menyerang” anak sebagai pribadi. Misalnya saat anak kita mengganggu adiknya, fokuskan pada perilakunya tanpa menyebutnya nakal, bodoh, keras kepala, dan lain-lain. Dengan demikian anak paham bahwa kita bukannya benci atau tidak suka pada dirinya, melainkan berharap ia mengubah perilakunya.

Latih anak berperilaku atau berkomunikasi asertif dengan beberapa langkah : Pertama, biarkan ia mencoba mengatasi konflik di lingkungan sosialnya secara mandiri. Kedua, amati caranya berkomunikasi atau mengungkapkan pendapatnya. Berikutnya, kita dapat mengintervensi saat ia tampak menahan diri/ takut/ non asertif, atau sebaliknya terlalu dominan/ agresif. Ketiga, berikan apresiasi dan masukan pada upayanya berperilaku asertif. Dan terakhir adalah dengan cara bermain peran, dimana anak melakukan adegan pada situasi tertentu dimana perilaku asertif itu dibutuhkan.

Sumber :
1. Seri pendidikan seksualitas pada anak, Yeti Widiati 040116
2. Fitrah Based Edication, Harry Santosa
3. https://www.childrencafe.com/melatih-anak-mengembangkan-perilaku-asertif/
4. PKM-GT, Universitas Negeri Malang, Psikodrama untuk Meningkatkan Komunikasi Asertif sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Rabu, 10 Januari 2018

Riview VI Membangun Fitrah Seksualitas Anak

Malam ini adalah malam ke-6 dan yang mengisi presentasi dikelas adalah kelompok 4, yaitu saya sendiri yang menjadi bagian dari kelompok itu.

Banyak pelajaran yang dapat saya ambil saat bersama teman-teman satu kelompok ini. Mulai dari mencari bahan untuk presentasi, media yang akan digunakan, bagaimana nanti saat membersamai kelas. Ahhh... sesuatu yang akan menjadi salah satu kenangan terindah saya di penghujung kelas bunda sayang.

Tema yang kami angkat malam ini adalah 'Membangun Fitrah Seksualitas Pada Anak"

Sejak dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat di bulan Juni 2016 silam, hawa kebebasam kaum LGBT seolah bertiup ke berbagai negara termasuk Indonesia. Menurut *Dwi Estiningsih, M.Psi, Psikolog* Direktur Biro Konsultasi Psikologi Winata Yogyakarta, mengatakan, secara umum ranah psikologi secara umum masih menganggap LGBT termasuk penyimpangan seksual, namun pendapat ini mulai bergeser saat Asosiasi Psikiatri Amerika mengeluarkan homoseksual dari daftar gangguan jiwa. Paham homoseksual sebagai hal normal mulai disoaialisasikan secara massif dan akhirnya mulai muncul legalisasi di banyak negara. Melalui media dan media sosial para pendukung LGBT menggulirkan wacana yang mempengaruhi persepsi masyarakat dan mulai membuka lebar ruang toleransi bagi mereka.

*Keluarga merupakan garda terdepan dalam menghadapi masalah ini.  Keluarga harus bisa memberikan pemahaman yang tepat mengenai fitrah seksualitas kepada anak*

Memerangi LGBT yang paling efektif adalah mengagendakan dengan serius dan sungguh sungguh pendidikan fitrah khususnya fitrah keimanan, fitrah seksualitas & fitrah individualitas di rumah & di sekolah.

Terlalu melelahkan menghadapi argumentasi dan debat para pemuja hawa nafsu dan orang orang yang putus asa itu. Jiwa mereka gelisah dan tak tenang karena hawa nafsu mengendalikan akal sehat dan nurani. Sekelas Nabi Luth AS saja kewalahan bahkan istrinya pun terseret mendukung kaum Sodom.

Kaum Sodom modern bahkan kini didukung bangsa Kera yang selalu menyibukkan ummat dengan masalah, sehingga kita sering lalai menjaga halaman belakang Ummat, yaitu rumah dan keluarga. Kita seringkali hebat menjadi ahli debat dan tabib kebiadaban, namun sangat lemah ketika harus menjadi ahli hikmat dan arsitek peradaban.

Apa maknanya? Cahayakan rumah kita dengan Kitabullah, kokohkan proses pendidikan di rumah kita. Bimbinglah potensi fitrah tiap anggota keluarga hingga sempurna, terutama dimulai dari fitrah ayah dn fitrah ibu.

Ingat bahwa pendidikan bukan tentang persekolahan dan pengajaran skill & knowledge, karena keduanya itu kini mudah diperoleh di dunia maya dan dimana saja. Pendidikan bukan tentang mencetak human thinking dan human doing, tetapi harus membangkitkan human being (insan kamil), manusia yang seluruh aspek fitrahnya tumbuh paripurna sesuai tahapannya.

Jadi pendidikan adalah tentang merawat, membangkitkan, menumbuhkan dan mengokohkan semua aspek fitrah anak anak kita termasuk fitrah kita sendiri sebagai orangtua lalu memandunya dengan Kitabullah agar sempurna, indah dan berbahagia.

Fitrah seksualitas ditumbuhkan dengan kehadiran ayah ibu secara utuh sejak lahir sampai aqilbaligh, namun itu saja tak cukup. Beberapa anak yang normal fitrah seksualitasnya bisa saja terpengaruh LGBT melalui pelecehan, lingkungan dll karena fitrah individualitas dan sosialitasnya tak tumbuh baik.

Tiada pilihan, Orangtua dan Sekolah memang harus berubah dari paradigma dan praktek pendidikan yang memberhalakan basis akademis (persekolahan) kepada pendidikan berbasis potensi fitrah menuju peradaban yang adil dan beradab (tarbiyah hadhoriyah).

Tanpa fitrah yang tumbuh hebat maka mustahil bangkit manusia yang beradab. Penyimpangan fitrah hanya melahirkan generasi yang tidak beradab alias biadab sebagaimana para pengusung penyimpangan fitrah seksualitas.

*Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati*

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

*Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya* karena ada menyusui.

*usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya*
agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga

*anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"*

*Ketika usia 7 - 10 tahun, anak  didekatkan sesuai gender*

karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Ayah menjadi sosok yang menjelaskan "seperti apa laki-laki"

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Ibu menjadi sosok yang menjelaskan "seperti apa perempuan"

*usia 10 - 14 dekatkan berlawanan gender*
Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki mengenal sosok yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya. Agar ia pun belajar bagaimana memperlakukan wanita.

anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya,
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

*Beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mendukung fitrah seksualitas anak*

🍂Sejak usia dini, kenalkan jati diri dan identitas sesuai dengan jenis kelamin anak. Jangan sampai sekali-kali anak diberi mainan yang tidak sesuai jenis kelaminnya

🍂Batasi penggunaan gadget atau internet

🍂Dampingi anak saat menonton tv

🍂Awasi lingkungan pertemanan anak, apalagi di masa pubertas

🍂Ikutilah tuntunan rasul saw dalam memberikan pendidikan seksual pada anak. Seperti memisahkan tempat tidur sejak usia menjelang baligh, mengenalkan batasan aurat sejak dini(sebelum akil balig), dan tidak menyerupai lawan jenis dalam berpenampilan

Sumber
FBE Harry Santosa
Majalah Ummi edisi Desember 2015,  elly risman.

Selasa, 09 Januari 2018

Riview V Pendidikan Fitrah Seksualitas Pada Anak Usia Dini

Tanpa terasa sudah melewati 5 malam diskusi dilevel 11 ini. Dan malam ini saya hanya bisa menyimak selewat karena adek yang lagi sedikit manja kepada mamanya. Minta dibacain bukulah, didongenginlah, diminta belajar huruflah. Hahahaha.. menggemaskan sekali adek malam ini.

Disaat mamanya meminta izin untuk hadir diskusi dikelas bunsay. Adek langsung jawab "No..No..No.. mama" sambil jari telunjuknya digoyang-goyangin.

Malam ini tema yang diangkat dari rekan-rekan kelompok 5 adalah "Pendidikan Fitrah Seksualitas Pada Anak Usia Dini" tema yang sangat menarik ya tentunya.

Karena beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan sebuah buku yang bertujuan mengenalkan pendidikan seks pada anak. Dalam salah satu isi cerita, buku tersebut membahas persoalan masturbasi lengkap dengan ilustrasinya. Ya, akhir-akhir ini memang banyak diangkat tema pendidikan seksual dan pendidikan seks.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa keduanya berbeda, sehingga menimbulkan respon yang berbeda pula. Kelompok pertama berpendapat, hal tersebut tidak perlu diajarkan karena dianggap belum pantas untuk anak-anak, sementara kelompok lain kebablasan dalam menjelaskannya. Sebenarnya mana yang benar?

Sebenarnya yang perlu diajarkan sejak dini adalah pendidikan seksualitas. Pendidikan seksualitas adalah bagaimana mengajarkan anak berpikir, bersikap, dan bertingkah laku sesuai jenis kelaminnya (Perwitasari,2017). Bagaimana anak memahami, menghayati, dan memiliki rasa percaya diri sesuai jenis kelaminnya. Sedangkan pendidikan seks termasuk bagian dari pendidikan seksualitas yang dimulai sejak mempersiapkan pubertas. Fokusnya lebih kepada bagaimana berhubungan dengan lawan jenis.

Berbicara soal pendidikan seksualitas, tentu terkait dengan fitrah anak. Setiap anak terlahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orang tua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, salah satunya adalah fitrah seksualitas. Mendidik fitrah seksualitas adalah merawat, membangkitkan, dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya yaitu bagaimana seorang lelaki berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai lelaki juga bagaimana perempuan berpikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan. Fitrah seksualitas perlu dirawat dengan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir hingga usia akil baligh (Santosa, H.2017).

Lalu sekarang pertanyaannya, bagaimana cara menerapkan pendidikan fitrah seksualitas pada anak usia dini?
💓 *Memperkuat identitas gender sesuai jenis kelamin*
Yaitu dengan cara memberikan identitas dan simbol sesuai jenis kelamin. Misalnya membedakan nama, perlengkapan, ruangan, kamar mandi, permainan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya untuk memberikan kesempatan yang sama dalam memperkuat jati diri sesuai jenis kelaminnya.
💓 *Mengajarkan masalah aurat*
Aurat yaitu bagian tubuh yang harus dijaga. Anak harus diajarkan bahwa tubuhnya berharga, oleh karna itu harus dijaga. Tidak boleh diperlihatkan, disentuh selain kepada ibunya, juga tidak boleh dipermainkan. Perlu dijelaskan pada anak juga bagian mana yang boleh dan terlarang untuk disentuh.
💓 *Mengajarkan anak berinteraksi dengan sekitar*
Kepada siapa anak boleh bersalaman, bermanja, minta gendong, bersentuhan, dan berdekatan. Anak juga harus belajar membedakan bagaimana berinteraksi dengan ayah, paman, kakek, dan lainnya. Lalu, bagaimana bersikap dengan kepada selain keluarga.
💓 *Belajar adab terkait interaksi dengan orang lain*
a. Meminta ijin ketika masuk ke kamar orangtua
b. Sedari dini, anak dilatih untuk tidur terpisah dengan orangtua
c. Adab memandang. Ada hal yang boleh dilihat/ada yang tidak boleh dilihat
d. Adab berpakaian. Batasan pakaian sesuai jenis kelamin
e. Adab interaksi dengan lawan jenis, misal tidak memeluk yang bukan keluarga
💓 *Anak usia dini harus dijaga dari hal-hal yang merusak fitrahnya*
Yang berkaitan dengan pornografi/pornoaksi. Salah satu caranya tidak boleh menggunakan gadget tanpa pendampingan. Harus dibatasi waktu dan konten yang dilihat.

Bagaimana cara mengajarkan hal-hal diatas untuk anak usia dini? Karena pendidikan seksualitas adalah sesuatu yang harus dipahami dan menjadi sebuah ketrampilan baru bagi anak, maka tidak bisa hanya diajarkan sekali duakali tapi harus sering dan berulang. Tentunya disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini, seperti: Bernyanyi, bercerita, bermain peran, atau berlatih tugas yang dikaitkan dengan tema gender.

📚Referensi:
1. Santosa, H.2017.Fitrah Based Education.Depok:Yayasan Cahaya Mutiara Timur
2. Dee, Arif. 2017
http://www.ummi-online.com/membangkitkan-fitrah-seksualitas-pada-anak-bagian-1.html
2. Perwita Sari. 2017 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1905750059452170nid=221502844543575

Senin, 08 Januari 2018

Riview IV Membangkitkan Fitrah Seksualitas

Malam ini malam keempat diskusi dikelas bunda sayang Institut Ibu Profesional di level 11. Antusias dan tetap semangat itu yang saya rasakan dari teman-teman di kelas dan yang diri saya sendiri rasakan

Tema yang disajikan malam ini adalah "Membangkitkan Fitrah Seksualitas"

Menurut salah satu tulisan dari ibu Elly Risman.

Punya suami yang kasar? Kaku?  Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.

Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.

Kok sebegitunya?

Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui

usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.

Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.

Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.

Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka

inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayahnya.

Semoga kita termasuk orangtua yang tidak pernah lelah dalam membersamai anak-anak kita yaa.

Minggu, 07 Januari 2018

Riview III Pentingkah Mengenalkan Fitrah Seksualitas Pada Anak?

Hari ini masuk hari ketiga diskusi dikelas bunda sayang IIP. Dan dihari ini sedari pagi ada saja kegiatan diluar rumah yang saya lakukan. Menjelang jam 11 malam baru bisa sampai lagi ke rumah.

Disaat badan terasa lelah, tapi pikiran masih kebayang sama tugas riview hari ini.

Diskusi malam ini bertema "Pentingkah Mengenalkan Fitrah Seksualitas Pada Anak..?"

Landasan :
- QS Ar Rum : 21
- QS Asy Syuaro : 166

Dorongan seksual yang diciptakan Allah dalam diri manusia telah menjadi sebab lestarinya kehidupan manusia. Agar dorongan biologis yang ada dalam diri anak sejalan dengan ketentuan Allah dan terhindar dari penyimpangan moral, maka Islam memberikan perlindungan kepada anak dengan berbagai perintah dan larangan agar dorongan seksual anak tetap terpelihara, seimbang dan suci.

Untuk itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam mengenalkan masalah Dorongan seksual yang terjadi pada Anak :

🍓   *Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin kepada anak*
Orang tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah dan perempuan seperti ibu. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya.

🍓  *Menjelaskan Fungsi Organ reproduksi*
Orang tua harus menjelaskan fungsi kematangan sperma kepada anak laki-laki yang menjelang baligh. Juga menjelaskan adanya sel telur dan fungsi rahim kepada anak perempuan yang menjelang baligh. Agar anak-anak memahami konsekuensi dari kematangan organ tubuh yang dimilikinya sehingga dapat menjaga serta menyalurkannya pada saat yang tepat yaitu hanya melalui pernikahan yang suci.
*Pendidikan seks dapat dilakukan secara bertahap sesuai usianya :*
🍏 Usia 1-5 tahun kenalkan anggota tubuh anak secara detail
🍏 Usia 5-10 tahun jawab pertanyaan anak secara detail
🍏 Usia 10-12 tahun kenalkan tentang haid, mimpi basah dan perubahan fisik

🍓  *Membiasakan Anak Menundukan Pandangan dan Menjaga Aurat*
Membiasakan anak menundukkan pandangan dari aurat orang lain merupakan suatu keharusan sehingga anak tidak mengalami kematangan seksual yang terlalu cepat dan lepas kontrol, yang dapat mengakibatkan ia terjangkit penyakit kejiwaan, moral dan sosial.

Kita juga harus mengenalkan bagian-bagian tubuh anak. Mana yang boleh diperlihatkan dan disentuh orang lain, serta mana yang yang tidak boleh diperlihatkan serta tidak boleh disentuh orang lain.

🍓  *Memisahkan Tempat Tidur Anak*
Pemisahan trmpat tidur anak dilakukan ketika mereka berusia 7-10 tahun disaat kecenderungan atau gejolak seksual mereka mulau tumbuh.

Dua orang anak tidak boleh tidur dalam satu selimut dan satu ranjang. Namun, jika tidak memungkinkan dalam ranjang yang berbeda maka tetap diharuskan dalam selimut yang berbeda.

Tidur diatas kasur dengan satu selimut dapat menimbulkan gairah seksual anak secara cepat dan kuat. Disaat nafsu birahi semakin kuat dan tidak ada sarana untuk menyalurkannya, maka anak akan melakukan penyimpangan seksual. Betapa banyak penyimpangan ini terjadi tanpa sepengetahuan orang tua. Kecerobohan inilah yang mengakibatkan anak-anak yang tidak berdosa hancur dan rusak.

🍓   *Ijin Masuk Kamar Orang Tua*
Anak harus meminta ijin untuk masuk ke kamar orang tua pada waktu setelah sholat isya, menjelang sholat subuh, dan menjelang zuhur. Waktu tersebut adalah waktu beristirahat kedua orang tua.

Pada tiga waktu ini anak harus mengetuk pintu dan meminta ijin agar penglihatan mereka tetap terjaga dari aurat keluarga, untuk mencegah anak terjangkit penyakit jiwa karena dorongan biologis.

🍓   *Pernikahan Dini*
Meskipun pernikahan dini dianggap sebuah kemunduran dan keburukan pada zaman modern ini, namun kebaikannya justru lebih banyak kita rasakan. Kebaikan itu akan lebih besar terasa jika kedua orang tua mempermudah pernikahan bagi anak-anaknya. Penyakit jiwa, sosial dan tindakan kriminal lahir, salah satunya karena pernikahan yang dipersulit.

🍓    *Kekerasan SEKSUAL pada Anak*
Kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak kita kenal, melainkan dapat terjadi dari orang terdekat. Banyak kasus yang ditemukan tetangga mencabuli anak tetangganya, kakek mencabuli cucunya, hingga kasus yang paling miris adalah seorang ayah yang berani mencabuli anaknya.
Hal ini disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku dan diperparah dengan ketidakmampuan anak melawan perlakuan mereka.
Berdasarkan peristiwa tersebut, sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak anak masih kecil.

*Berikut Ini beberapa hal yang dilakukan untuk mengenalkan pendidikan seks pada anak sejak dini :*
1. Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain
2. Tanamkan budaya malu kepada anak.
3. Membatasi aktivitas menonton Televisi pada anak.
4. Dampingi dan buat batasan penggunaan  gadget pada anak!
5. Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua.
6. Bicarakan seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana.

📚 Sumber
- Cara Nabi Mendidik Anak karya Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaud
- Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak
- Diskusi bersama dr. Nuly Juariyah dalam Sekolah Pranikah
-   https://life.idntimes.com/family/mely-rovina-farizal/cara-mengenalkan-sex-education-pendidikan-seks-kepada-anak

Sabtu, 06 Januari 2018

Riview II "Membangkitkan Fitrah Seksualitas"

Pagi ini bangun tidur tiba-tiba bibir abang bengkak lagi. Memang dari kemaren sore abang sudah mengeluh kalo gigi depan bagian atasnya, yang bulan dua kemaren ada tindakan sama specialis bedah mulut kambuh kembali. Maka saya pun bersama abang dan adek bergegas untuk berangkat ke rumah sakit Siloam Karawaci, yang letaknya lumayan jauh dari rumah.

Kondisi abang pun kian lemas karena sedari pagi gak bisa makan apa-apa karena untuk buka mulutnya saja katanya nyeri.

Sesampai dirumah sudah jam 22:24 wib. Dan saya pun tidak bisa mengikuti jalannya diskusi malam ini. Tapi berusaha membaca dan memahami apa yang disampaikan oleh teman-teman malam ini.

Tema yang disajikan malam ini adalah "Membangkitkan Fitrah Seksualitas"

Berita yang paling mencuat diakhir tahun ini yang sangat mengguncangkan hampir semua keluarga adalah berita berita yang berseliweran tentang meluasnya LGBT dan zina akibat ditolaknya Judicial Review di MK, terhadap beberapa pasal dari KUHP kita yang sudah terlalu tua untuk disesuaikan dengan kenyataan yang ada sekarang ini dimasyarakat kita.

LGBT singakatan dari Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender. Dewasa ini LGBT dipakai untuk menunjukan seseorang atau siapapun yang mempunyai perbedaan orientasi seksual dan identitas gender berdasarkan kultur tradisional, yaitu heteroseksual. Lebih mudahnya, orang yang mempunyai orientasi seksual dan identitas non-heteroseksual seperti homoseksual, biseksual, atau yang lain dapat disebut LGBT.

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya atau ketiadaan figur Ayah dan Ibu pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, Kekerasan/pelecehan terhadap anak Pedofil Sex bebas dikalangan anak dan remaja Kecanduan pornografi Tontonan dan Game Anak akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi.

Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat sampai ke LGBT.

Untuk menghindari hal tersebut diatas, figur Ayah dan Ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah parupurna. Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir. Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks. Memulai pendidikan fitrah seksualitas tentu pada awalnya tidak langsung mengenalkan anak pada aktivitas seksual, seperti masturbasi atau yang lainnya.

Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas ini. 1.membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan. Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun. Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki. Mengapa harus nama ilmiah? Ini menghindarkan pada pentabuan. Selama ini pembicaraan seputar seksuitas dianggap tabu oleh masyarakat. Karena penjelasannya seringkali tidak secara ilmiah. Hal yang tabu ini bisa mendorong anak untuk mencari-cari secara sembunyi-sembunyi. Dan ini pada akhirnya akan memulai datangnya masalah penyimpangan seksual pada anak. Orangtua harus menjadi pihak pertama yang secara jujur dan terbuka dalam menyampaikan hal yang berkaitan dengan organ seksual anak. Sehingga anak akan mampu dengan jelas memahami identitas seksualnya.

2. Mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak. Sehingg anak akan mampu dengan tegas menyatakan "saya laki-laki" atau "saya perempuan".

3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai berkativitas dengan peer groupnya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan. Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.

Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut. Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai aqil baligh.

Kemudian dilanjutkan dengan membangkitkan fitrah seksualitas anak bisa dimulai sejak mereka dilahirkan.
Pada framework pendidikan berbasih fitrah, membangkitkan fitrah seksualitas pada anak berbeda menurut tahap usia anak masing-masing.

Ada tiga tahapan usia anak yaitu

1. Tahap Pra Latih Usia

- Usia 0-2 tahun

Pada usia ini anak harus dekat dengan ibunya, karena terdapat proses menyusui.
Ibu menyusui anaknya.
Menyusui bukan sekedar memberi ASI.
Artinya ketika menyusui ibu memberikan perhatian secara penuh kepada anaknya.
Tidak melakukan aktifitas lainnya saat menyusui.

- Usia 3-6 tahun
Di usia ini anak harus dekat dengan kedua orangtuanya.
Sosok ayah dan ibu harus hadir agar anak memiliki keseimbangan emosional dan rasional.
Kedekatan kedua orangtua akan membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok laki-laki dan perempuan.
Dan pada akhirnya anak akan bisa menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya.

Anak sudah bisa memastikan jenis seksualitasnya.
Mereka dengan mantap mengatakan  " saya perempuan " atau " saya laki-laki ".

2. Tahap Pre Aqil Baligh 1 (7-10 tahun)

Pada usia ini anak laki-laki lebih didekatkan kepada ayah.
Mengapa? Karena usia ini egosentris anak bergeser ke sosio sentris.
Ayah membimbing anak lelakinya untuk memahami peran sosialnya.
Caranya bisa mengajak anak untuk mengikuti shalat berjamaah di masjid.
Melakukan kegiatan pertukangan bersama.
Atau menghabiskan waktu di bengkel.
Selain itu, ayah juga menjelaskan tentang fungsi reproduksi yang dimiliknya.
Misalnya konsekuensi sperma bagi seorang laki-laki.

Begitupula sebaliknya, di usia ini anak perempuan lebih didekatkan pada ibunya.
Ibu membangkitkan peran keperempuanan dan keibuaan anak.

Misalnya memberi pengetahuan akan pentingnya ASI (Air Susu Ibu).
Agar kelak anak perempuan akan melaksanakan tugas menyusuinya dengan baik.
Mengajarkan tentang pentingnya pendidikan bagi seorang ibu.
Seorang ibu haruslah terdidik, sebab ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Melibatkan anak dalam mempersiapkan hidangan yang begizi bagi keluarga.

Dan ibu menjadi tempat pertama yang menjelaskan tentang konsekuensi adanya rahim bagi perempuan.

3. Tahap Pre Aqil Baligh 2 ( 11-14)

Usia ini adalah puncak perkembangan fitrah seksualitas.
Pada usia ini anak laki-laki akan mengalami mimpi basah, sedangkan anak perempuan akan mengalami menstruasi.
Mereka juga mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis.

Langkah pertama yang harus dilakukan orangtua dalam membangkitkan fitrah seksualitas pada usia ini adalah memberikan mereka kamar terpisah.

Di usia ini anak laki-laki harus lebih dekat pada ibunya.
Tujuannya, agar dia mampu memahami dan memperhatikan lawan jenisnya melalui kacamata perempuan.
Sehingga kelak dia akan tumbuh sebagai laki-laki yang bertanggungjawab dan penuh kasih sayang.

Anak perempuan pada usia ini harus lebih dekat dengan ayahnya.
Ayah menjadi cinta pertamanya.
Ayah menjadi sosok ideal dimatanya.
Menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah.
Kedekatan ini membuat anak perempuan bisa memahami bagaimana laki-laki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan sesuai persepsi laki-laki.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimana setelah usia 14 tahun?
Pasca usia 14 tahun anak bukan lagi anak.
Mereka adalah individu yang setara.
Tugas orangtua sudah selesai di usia ini.
Sebab jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh.
Asnak sudah bertanggungjawab pada dirinya sendiri.

Mari kita semangat membersamai anak-anak kita dengan sepenuh hati dan jiwa kita. karena kita hanya memiliki waktu selama 14 tahun.
Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing.

Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang dengan sebaik-baiknya.

#Hari2
#Tantangan10Hari
#RivewDiskusi
#KelasBundaSayangIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak
#6Januari2018

Jumat, 05 Januari 2018

Riview I "Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksu

Akhirnya sampai juga di level 11 kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Menilik ke dua level sebelumnya tantangan yang harus diselesaikan selalu berbeda dari tantangan-tantangan sebelumnya. Dan menjadi kesan tersendiri untuk saya.

Dan.... malam ini adalah malam pertama untuk sesi presentasi. Uwow banget kan yaa.. presentasi online lho, karena semua disajikan secara online mulai dari bahan diskusi dan media edukasi yang digunakan dalam presentasi,  disajikan sebegitu apiknya oleh rekan-rekan dari kelompok 9.

Tema yang dipilih dari rekan-rekan kelompok 9 adalah "Pentingnya membangkitkan Fitrah Seksualitas Pada Anak?".

Secara definisi, Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial (yaitu kebiasaan yang tumbuh dan disepakati dalam masyarakat) dan dapat diubah sesuai perkembangan zaman.

Sementara seks adalah perbedaan organ biologis antara laki-laki dan perempuan, terutama pada bagian-bagian reproduksi. Gender bukan kodrat atau ketentuan Allah sehingga gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai , ketentuan social dan budaya masyarakatnya.

Seks merupakan kodrat Allah sehingga tidak dapat ditukar atau diubah. Secara lebih jelas perbedaan gender dan seks/jenis kelamin dapat dilihat pada poin-poin ini : Jenis kelamin (seks)
•Tidak dapat diubah
•Tidak dapat dipertukarkan
•Berlaku sepanjang zaman
•Berlaku dimana saja
•Merupakan kodrat Allah
•Ciptaan Allah

Gender:
•Dapat berubah
•Dapat dipertukarkan
•Tergantung waktu
•Tergantung budaya setempat
•Bukan merupakan kodrat Allah
•Buatan manusia

Sedangkan Fitrah Seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

Fitrah Seksualitas Penting di tumbuhkan sejak dini kepada anak-anak dengan harapan :
1. Dapat memberikan pemahaman anak akan kondisi tubuhnya
2. Dapat memberikan pemahaman akan lawan jenis
 3. Dapat memberikan pemahaman untuk menghindarkan diri anak dari kekerasan seksual
 4. Membersamai anak agar memperoleh informasi yang tepat
5. Menghindarkan anak dari perilalu negatif dan perilaku menyimpang
6. Menghindari hal-hal yang memungkinkan anak merasa kehilangan kelekatan akan sosok ayah dan ibunya, entah itu karena bencana, perceraian, atau dikirimnya anak ke pondok terlalu dini tanpa adanya pendekatan dan pengenalan tentang fitrah seksualitas secara menyeluruh.

Sebagai Ayah, tuntunlah anak untuk memahami peran sosialnya, menjalani sholat berjamaah, bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Sedangkan sebagai ibu, Ia juga harus menjadi wanita pertama hebat yang dikenang anak-anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya.

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai fitrah seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun sudah mampu dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Dengan memahami konsep gender dan fitrah seksualitas, baik laki-laki dan perempuan yang Allah ciptakan berpasang-pasangan memerlukan kehadiran dan kerjasama satu sama lain. Keterpaduan keduanya bukan berarti sama, namun bermitra secara harmonis termasuk dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

Dengannya mari kita hadir secara utuh dalam membersamai anak-anak, jalankan peran dan tanggung jawab masing-masing, berikan informasi informasi yang benar & pengalaman baik yang berulang-ulang.

#Hari1
#Tantangan10Hari
#KelasBundaSayangIIP
#Level11
#FitrahSeksualitas
#LearningByTeaching
#5Jan2018