Rabu, 19 September 2018

Ustadzah cantik itu bernama Ifa

Gadis cantik berkerudung putih itu bernama Ifa. Seorang ustadzah disalah satu pondok pesantren diwilayah Banten. Ia memilih menjadi seorang ustadzah karena emang cita-citanya dari beberapa tahun silam. Menyukai dunia pendidikan, menyukai anak-anak, dan tidak selalu suka dengan kebisingan menjadi salah satu faktor utama yang membuat Ifa jatuh cinta di pondok pesantren ini.

Pondok pesantren Salsabilla namanya, nama yang Indah seindah tempat dan suasananya. Jauh dari keramaian, suasana yang tenang, masih banyak terdengar suara-suara jangkring kala malam membuat Ifa semakin jatuh cinta dengan Salsabilla.

Keseharian Ifa yang membersamai santri-santri disini mulai dari subuh hingga selepas kegiatan rutin malam hari. Sedikitpun tidak pernah Ifa merasakan kejenuhan. Ifa sangat menikmati semua yang ia kerjakan disini. Melihat setiap tingkah santrinya, mendengar derai tawa mereka, dan semangat yang luar biasa dari para santri ini lah yang kian membuat hari-hari Ifa semakin berwarna.

Harapannya sebagai salah satu ustadzah dipondok pesantren ini, semoga kelak Salsabilla bisa terus dapat mencetak generasi bangsa yang Qurani. Senyum terukir diwajah cantiknya, saat melihat anak-anak yang hilir mudik di depannya. Sambil diiringi suara burung pemecah kesunyian.

Penat yang mendera Reina

Penat yang mendera Reina belakangan ini membuat Reina semakin tidak bisa konsentrasi menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa teman satu divisi nya pun sudah melihat gerak gerik Reina yang tidak seperti biasanya.
"Lu kalo gak enak badan mending izin balik aja Rei" kata Zahwan. Bukannya menjawab pertanyaan Zahwan, Reina malah ngelonyor pergi ke pantry.
Duduk berdiam di kursi pantry dan menyesap wangi kopi hitam kesukaannya membuat pikiran Reina sedikit lebih tenang, sambil jempolnya pun dengan indahnya menari-nari diatas layar telepon pintar miliknya. senyum merekah diwajahnya saat melihat salah satu akun travelling menawarkan promo liburan yang menurut Reina cukup menggiurkan. Ahhh... rasanya emang gue dah lumayan lama tidak liburan kesuatu tempat karena pekerjaan yang tiada habisnya, bisa beneran gila gue kalo lama-lama kayak gini, fix gue butuh liburan. Gumamnya dalam hati.

Dirasa pikirannya sudah bisa diajak konsentrasi, Reina pun memilih untuk kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang semakin menumpuk karena ulahnya sendiri berapa hari ini. Oke.. tarik napas yang dalam hembuskan perlahan Reina, lu harus fokus menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda ditambah beberapa deadline. Setelah semua selesai lu bisa atur waktu ambil cuti buat liburan. Gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.

*****

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:30 wib, teman-teman sedivisi Reina pun sudah ada beberapa yang pulang. Tapi Reina masih berkutat didepan komputernya, masih memilih untuk menyelesaikan tugasnya yang tertunda. Hawa liburan sudah memasuki pikiran dan jiwa Reina, membuat harinya kini kembali bersemangat.

Klip klip lampu bewarna ungu terus menyala dari telepon pintarnya, karena penasaran Reina pun melihat ada info apakah yang bisa dirinya dapatkan. Dan ternyata agen travelling itu memberikan informasi kepada Reina tentang jadwal keberangkatan. Senyum sumringah sangat jelas diwajahnya. Karena esok dirinya akan mulai mengurus izin cutinya.

*****
Pagi ini Reina sedikit lebih sibuk dari biasanya, karena harus menuntaskan dua deadline kerjaannya dan persiapan untuk berangkat liburan esok hari. Walau padat dan sedikit lelah tapi Reina tidak menghiraukannya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah besok pagi dirinya bisa meninggalkan sejenak kebisingan ibukota.

Baru membayangkan tebing yang menjulang tinggi, air yang tenang, suasana yang hening membuat Reina tidak sabar menikmati satu pekannya disana.

#challenge14Hari
#RBMenulisBanten
#fiksibergambar
#ibuprofesionalbanten