Jumat, 28 April 2017

Surat cinta untuk Pappa

Karena ada yang ingin diutarakan isi hati dan ngerasa pasti akan jadi lebih indah ceritanya jika dituliskan lewat bahasa tulisan, akhirnya saya mencoba untuk mulai merangkai kata demi kata di kertas bergaris pink.

Dengan kondisi rumah sunyi sepi karena anak-anak lagi pada tidur, jadi suasananya lebih berasa. Melarikan diri sejenak ke kamar atas sekalian me time lah sambil dengerin lagu-lagu dari laptop.

Ehh... ternyata ada yang mengintip dari pintu "abang kira mama pergi, abang cariin dibawah gak ada, mama lagi ngapain disini..?" Serentetan kalimat yang abang utarakan. "Mama lagi nulis surat cinta untuk pappa, abang mau nyoba nulis surat sama-sama mama..?" Tanyaku.. gelengan kepala menjadi jawabannya. Mungkin moodnya belum sepenuhnya utuh karena baru banget bangun dari tidur.

Sore ini sehabis saya sholat Ashar abang tiba-tiba menanyakan kembali kepada saya "Mama kok seneng banget bikin surat untuk pappa, kenapa gak wa aja pappa nya, kenapa gak ngomong langsung aja sama pappa.." mencoba menjelaskan kembali kepada abang bahwa terkadang dengan menyampaikan lewat bahasa tulisan yang ditulis langsung akan membuat cerita yang ingin disampaikan terasa lebih indah dan bisa lebih mengena untuk orang yang membacanya.

Dengan semangatnya "Abang juga mau nulis surat buat pappa" sambil menikmati sore yang cerah, sambil membersamai anak-anak belajar. hari ini belajar temanya belajar menulis.

Abang mendengarkan dengan serius apa yang saya jelaskan. Mungkin dirasa sudah mengerti maka abang menganggukan kepalanya dan mencoba untuk mulai menulis surat untuk pappanya, termasuk kedalam tipe belajar auditory. Dan adek awalnya melihat dengan seksama apa yang abang kerjakan, kemudian adek pun mulai mencoret-coret bukunya sendiri sambil sesekali bicara "Ini pewawat ma.. wiizzz, ini mobi ma.. ngeeengg.." Adek termasuk kedalam tipe gaya belajar visual.

#Pengamatan9
#Hari9
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBundaSayangIIP
#28Apr2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar