Selasa, 21 November 2017

Dengan Komunikasi Yang Sehat, Bonding pun Semakin Menguat

Tempat tinggal di kota Serang, dan tempat kerja suami di kota Serpong, yang memakan waktu lebih kurang 2 jam -an untuk sampai dilokasi kerja, membuat suami selalu berangkat jauh lebih pagi dan akan tiba kembali ke rumah saat pekatnya malam sudah menjemput.

Komunikasi yang produktif antara saya dan suami pun dapat di hitung lewat hitungan menit ditiap harinya. Padahal sebagai perempuan saya harus mengeluarkan lebih dari 20.000 kata per harinya, hampir 3x lipat dari pria.

Yang ditiap harinya sebelum suami pulang sudah membuat list apa saja yang ingin dijadikan topik obrolan. Apa saja yang ingin dijadikan bahan diskusi. Tapi, saat melihat raut wajah capek sang suami list yang dibuat pun buyar entah kemana. Dan komunikasi antara kami pun yaaa apa adanya saja. Lebih banyak saya yang mendengarkan semua cerita suami, tapi saya sendiri harus menahan untuk tidak bercerita. Melihat raut wajah letihnya membuat saya tidak tega kalau harus berganti saya yang bercerita, karena pasti akan memotong banyak waktu lagi untuk beliau beristirahat.

Berjalannya waktu saya merasa "komunikasi antara kami ini sedang sakit", tidak bisa terus-terusan seperti ini. Semakin lama saya pun merasa ketidaknyamanan karena sudah terlalu banyak yang dipendam didalam hati sendiri. Walaupun bahasa tulisan mewakili tapi tidak dapat dipungkiri saya tidak merasa puas selagi belum mengeluarkan dengan bicara secara langsung.

Saya mencoba menuliskan surat kepada beliau, yang biasanya melalui chating ini saya tulis dengan tulisan saya sendiri. Inti dari apa yang saya tulis itu adalah saya meminta waktunya di ujung minggu kala itu untuk menikmati waktu berdua saja dengannya, hanya ada diriku dan dirimu. Saya ingin kembali menimbulkan getar-getar yang selama ini mungkin tidak terfokuskan karena banyak hal yang mempengaruhi.

Alhamdulillah suami pun menyetujui. Ahhh bahagia tak terkira saya saat itu. Suami menghubungi orangtuanya untuk menitipkan sebentar kedua anak kami, karena dirumah memang tidak ada asisten rumah tangga. Dan Alhamdulillah mertua pun mengiyakan keinginan suami.

Di tengah waktu yang terbatas ini saya mengajak suami untuk makan di restoran favorit kami. Yang biasanya kalau kesana selalu bersama anak-anak, kali ini menikmati moment nya hanya berdua saja. Semaksimal yang bisa saya lakukan adalah memanfaatkan waktu yang sangat terbatas ini untuk mengeluarkan isi hati yang selama ini terpendam.

Sambil menatap wajah tampannya, senyum terindah saya berikan untuknya sebelum saya memulai semuanya. Bagai air mengalir, semua saya keluarkan, yaa semua yang selama ini terpendam di dasar hati saya bisa saya obrolkan secara langsung. Apa yang saya rasa, apa yang membuat saya merasa seperti ini, apakah kita bisa belajar bersama mengambil hikmah dari yang menjadi obrolan hari ini.

Bak... gayung bersambut suami mendengar dengan seksama, sambil terus menatap dalam wajah saya, memegang erat jemari saya, dan diselingi anggukan dari suami. Hingga selesainya saya bicara. Dan diujung obrolan itu airmata saya pun tumpah, dan berkali-kali juga suami meminta maaf atas keegoisan beliau selama ini, meminta maaf atas ketidak pekaan beliau kepada istrinya ini.

Dihari itu akhirnya kami menyadari bersama bahwa betapa pentingnya komunikasi yang produktif antara suami istri. Betapa pentingnya komunikasi yang terbuka. Dengan adanya komunikasi yang produktif dan terbuka akan membawa kepada komunikasi yang sehat.

Kami pun membuat kesepakatan bersama tentang menentukan waktu untuk bercerita secara sehat, saat sebelum tidur waktu yang dipilih untuk saya mendengarkan semua cerita keseharian suami hari itu. Dan waktu sesudah sholat Subuh dipilih sebagai waktu untuk saya yang bercerita, apa saja yang ingin menjadi fokus saya, akan saya bahas pada waktu yang telah kami tentukan.

Dengan adanya dua waktu yang kami tentukan itu, komunikasi dalam rumah tangga kami Alhamdulillah semakin sehat. Tidak ada lagi yang mengganjal di hati saya, tidak ada lagi yang terpendam. Semua dapat saya keluarkan setiap harinya.

Dengan begini juga saya dan suami merasa bonding antara kami kian menguat. Harapan saya semoga komunikasi yang sehat ini dapat terus kami jaga hingga nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar